Selasa, 31 Agustus 2010

Mata Kuliah KMB 1 S1 Keperawatan

Patofisiologi ablatio retina

19 komentar:

  1. NAMA KELOMPOK 8/3A/s1 keperawatan:
    1. DWI LISTYO CAHYONO
    2. MAHBUB KURNIAWAN
    3. MASLICHAH
    4. NURUL FITRIYANI

    Text 1:
    Lulusan D3 Keperawatan lebih banyak terserap di Rumah sakit pemerintah dibandingkan S1
    Dengan alasan tidak kuat menggaji lulusan S1 Keperawatan, banyak rumah sakit pemerintah dan swasta yang menyerap lulusan D3 keperawatan. Dilihat dari jumlah formasi seleksi CPNS, jumlah S1 sedikit dibutuhkan dibandingkan D3 keperawatan. Hal ini akan berdampak pada kualitas layanan asuhan keperawatan pada lingkup medikal bedah yang hanya berorientasi vokasional tidak profesional.
    Text 2:
    Sejak awal tahun 2000, di Kanada semua perawat kesehatan masyarakat sudah setingkat S1. Di Norwegia, 70 persen perawat rumah sakit lulusan S1. Indonesia mungkin perlu 40-50 tahun lagi untuk mencapai tingkatan itu. Kalau saat ini dipaksakan perawat profesional harus lulusan S1, hal itu tentu sangat sulit. Karena itu, lulusan D3 disebut sebagai perawat profesional pemula. Kalau ditambah pengalaman kerja tiga tahun, mereka bisa mendapatkan surat izin praktik (SIP).
    Prospek dan harapan pendidikan jarak jauh Sarjana Keperawatan Indonesia untuk Perawat Indonesia di Luar negeri
    Saat ini ada sekitar 250.000 jumlah perawat di Indonesia, dimana dari lulusan D3 keperawatan setiap tahunnya diluluskan 23.000 orang pertahun. Secara angka hal tersebut masih absurd jika dibandingkan jumlah lulusan Sarjana Keperawatan yang baru mencapai 6.000 orang.
    Sebagai komparasinya di Kuwait saat ini ada 700 orang perawat Indonesia yang saat ini bekerja, dan hanya 7 orang diantaranya yang lulusan Sarjana Keperawatan (BSN). Padahal sejak tahun 1998 semua negara lainnya seperti India, Philipina dan Mesir menempatkan lulusan S1 Keperawatan/BSN untuk bekerja di Kuwait.
    Tentu saja prospek untuk melakukan program tersebut sangat besar baik untuk perawat Indonesia yang bekerja diluar dan didalam negeri, hanya saja tinggal bagaimana kesiapan dan kebijakan pendidikan keperawatan khususnya untuk lebih bijak mensikapi tantangan tersebut.
    Memang ada dualisme dimana disatu pihak penyelenggara pendidikan keperawatan dituntut untuk tetap menjaga kualitas lulusan, namun pada saat yang sama juga kuantitas Sarjana Keperawatan sudah selayaknya ditingkatkan dan diakselesari dalam jumlah.
    Namun sekali lagi perawat Indonesia yang saat ini bekerja di luar negeri adalah gambaran perawat profesional, mereka skillfull, berbahasa inggris aktif, aktif online internet, memiliki wawasan global dan mewakili citra perawat Indonesia di luar negeri. Dan tentu saja ini dapat menjadi satu model untuk tenaga kerja Indonesia lainnya khususnya di sektor formal, dengan menyiapkan mereka siap dalam meningkatkan kesejahteran dan level pendidikannya di luar negeri saat dan pasca kontrak kerja

    KOMENTAR:
    Menurut kelompok kami banyaknya lulusan D3 yang diserap oleh rumah sakit pemerintah dikarenakan RS Pemerintah lebih mengutamakan pelayanan kesehatan. Sedangkan lulusan D3 sebagai lulusan vokasional dan sedangkan lulusan s1 keperawatan sebagai lulusan profesional yang lebih mahir dalam teori dari pada D3 keperawatan dikarenakan lulusan s1 keperawatan sebagai menegerial di Rumah Sakit.

    BalasHapus
  2. OLEH KELOMPOK 4 :
    Hairul Hidayat
    Ika Tri Hartanti
    Mahfud
    Marsih indaya
    Umrotul Jannah




    PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN
    STIKES DIAN HUSADA
    MOJOKERTO
    2010-2011

    PROGRAM SERTIFIKASI PERAWAT KEAHLIAN KHUSUS

    Program sertifikasi perawat keahlian khusus.
    Bermacam-macam program sertifikasi saat ini mulai berkembang dalam tatanan layanan keperawatan, khususnya pada bidang keperawatan medikal bedah misalnya sertifikasi perawat luka oleh INETNA, sertifikasi perawat anastesi, perawat emergency, perawat hemodialisa, perawat ICU, perawat ICCU, perawat instrument OK. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah standarisasi setiap sertifikasi sudah sesuai dengan kompetensi perawat profesional karena menurut analisa kami program tersebut berjalan sendiri-sendiri tanpa arahan yang jelas dari organisasi profesi dan terkesan hanya proyek dari lembaga-lembaga tertentu saja.
    Berdirinya organisasi profesi keperawatan kekhususan
    Sejak diakuinya perawat sebagai profesi yang profesional, saat ini mulai bermunculan organisasi profesi perawat kekhususan dalam keperawatan medikal bedah, misalnya HIPKABI (Himpunan Perawat Kamar Bedah Indonesia), InETNA (Indonesia Enterostomal Therapy Nursing Association), IOA (Indonesia Ostomy Association), dan sebagainya. Hal ini akan menjadi sarana bagi perawat untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih profesional dalam bidang garapan tertentu, namun demikian akan timbul permasalahan karena jenis keperawatan akan menjadi lebih bervariasi dan berdampak lebih luas pada organisasi keperawatan lebih luas karena akan terkesan terpetak-petak. Selain itu standar dari masing-masing kekhususnan belum jelas.

    KOMENTAR KELOMPOK
    Berdirinya beberapa organisasi keperawatan keahlian khusus merupakan kemajuan ilmu keperawatan dan pertanda diterimanya profesi keperawatan oleh masyarakat yang dimana organisasi tersebut akan melindungi para perawat keahlian khusus dan melalui organisasi itu pula mereka akan dapat mengembangkan pengetahuan dibidang kelimuannya masing-masing.
    Namun tidak mudah untuk mencapai semua itu, karena pendidikan keperawatan keahlian khusus yang kurang memadai khusunya di indonesia keberadaan profesi keperawatan yang masih belum memiliki undang-undang keperawatan dan tenaga perawat yang terkesan sebagai ”asisten” dokter. Menjadikan profesi keperawatan di indonesia jalan ditempat.
    Selain itu sistem sertifikasi perawat keahlian khusus belum tertata dengan baik, standarisasi sertifikasi setiap keahlian masih dipertanyakan. Hal ini akan menjadi suatu permasalahan yang serius karena jika para perawat kehlian khusus tidak memiliki kompetensi yang baik dibidangnya akan mencoret citra organisasi keperawatan. Peran organisasi keperawatan dalam hal ini PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) dipertanyakan dan dituntut untuk segera memperbaiki system sertifikasi perawat keahlian khusus dan sisterm yang lainnya.

    BalasHapus
  3. PROGRAM SERTIFIKASI PERAWAT KEAHLIAN KHUSUS











    OLEH KELOMPOK 4 :
    Hairul Hidayat
    Ika Tri Hartanti
    Mahfud
    Marsih indaya
    Umrotul Jannah




    PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN
    STIKES DIAN HUSADA
    MOJOKERTO
    2010-2011

    PROGRAM SERTIFIKASI PERAWAT KEAHLIAN KHUSUS

    Program sertifikasi perawat keahlian khusus.
    Bermacam-macam program sertifikasi saat ini mulai berkembang dalam tatanan layanan keperawatan, khususnya pada bidang keperawatan medikal bedah misalnya sertifikasi perawat luka oleh INETNA, sertifikasi perawat anastesi, perawat emergency, perawat hemodialisa, perawat ICU, perawat ICCU, perawat instrument OK. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah standarisasi setiap sertifikasi sudah sesuai dengan kompetensi perawat profesional karena menurut analisa kami program tersebut berjalan sendiri-sendiri tanpa arahan yang jelas dari organisasi profesi dan terkesan hanya proyek dari lembaga-lembaga tertentu saja.
    Berdirinya organisasi profesi keperawatan kekhususan
    Sejak diakuinya perawat sebagai profesi yang profesional, saat ini mulai bermunculan organisasi profesi perawat kekhususan dalam keperawatan medikal bedah, misalnya HIPKABI (Himpunan Perawat Kamar Bedah Indonesia), InETNA (Indonesia Enterostomal Therapy Nursing Association), IOA (Indonesia Ostomy Association), dan sebagainya. Hal ini akan menjadi sarana bagi perawat untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih profesional dalam bidang garapan tertentu, namun demikian akan timbul permasalahan karena jenis keperawatan akan menjadi lebih bervariasi dan berdampak lebih luas pada organisasi keperawatan lebih luas karena akan terkesan terpetak-petak. Selain itu standar dari masing-masing kekhususnan belum jelas.

    KOMENTAR KELOMPOK
    Berdirinya beberapa organisasi keperawatan keahlian khusus merupakan kemajuan ilmu keperawatan dan pertanda diterimanya profesi keperawatan oleh masyarakat yang dimana organisasi tersebut akan melindungi para perawat keahlian khusus dan melalui organisasi itu pula mereka akan dapat mengembangkan pengetahuan dibidang kelimuannya masing-masing.
    Namun tidak mudah untuk mencapai semua itu, karena pendidikan keperawatan keahlian khusus yang kurang memadai khusunya di indonesia keberadaan profesi keperawatan yang masih belum memiliki undang-undang keperawatan dan tenaga perawat yang terkesan sebagai ”asisten” dokter. Menjadikan profesi keperawatan di indonesia jalan ditempat.
    Selain itu sistem sertifikasi perawat keahlian khusus belum tertata dengan baik, standarisasi sertifikasi setiap keahlian masih dipertanyakan. Hal ini akan menjadi suatu permasalahan yang serius karena jika para perawat kehlian khusus tidak memiliki kompetensi yang baik dibidangnya akan mencoret citra organisasi keperawatan. Peran organisasi keperawatan dalam hal ini PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) dipertanyakan dan dituntut untuk segera memperbaiki system sertifikasi perawat keahlian khusus dan sisterm yang lainnya.

    BalasHapus
  4. Home Care / Perawatan Kesehatan di Rumah
    1. Pengertian
    Perawatan kesehatan di rumah merupakan salah satu jenis dari perawatan jangka panjang (Long term care) yang dapat diberikan oleh tenaga profesional maupun non profesional yang telah mendapatkan pelatihan. Perawatan kesehatan di rumah yang merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan adalah suatu komponen rentang pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan serta memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit termasuk penyakit terminal. Pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individual dan keluarga, direncanakan, dikoordinasi dan disediakan oleh pemberi pelayanan yang diorganisir untuk memberi home care melalui staf atau pengaturan berdasarkan perjanjian atau kombinasi dari keduanya (Warhola C, 1980).
    Sherwen (1991) mendefinisikan perawatan kesehatan di rumah sebagai bagian integral dari pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu individu, keluarga dan masyarakat mencapai kemandirian dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang mereka hadapi. Sedangkan Stuart (1998) menjabarkan perawatan kesehatan di rumah sebagai bagian dari proses keperawatan di rumah sakit, yang merupakan kelanjutan dari rencana pemulangan (discharge planning), bagi klien yang sudah waktunya pulang dari rumah sakit. Perawatan di rumah ini biasanya dilakukan oleh perawat dari rumah sakit semula, dilaksanakan oleh perawat komunitas dimana klien berada, atau dilaksanakan oleh tim khusus yang menangani perawatan di rumah.
    Menurut American of Nurses Association (ANA) tahun 1992 pelayanan keseatan di rumah adalah perpaduan perawatan kesehatan masyarakat dan ketrampilan teknis yang terpilih dari perawat spesialis yang terdiri dari perawat komunitas, perawat gerontologi, perawat psikiatri, perawat maternitas dan perawat medikal bedah. Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan perawatan kesehatan di rumah adalah :
     Suatu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif bertujuan memandirikan klien dan keluarganya,
     Pelayanan kesehatan diberikan di tempat tinggal klien dengan melibatkan klien dan keluarganya sebagai subyek yang ikut berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan,
     Pelayanan dikelola oleh suatu unit/sarana/institusi baik aspek administrasi maupun aspek pelayanan dengan mengkoordinir berbagai kategori tenaga profesional dibantu tenaga non profesional, di bidang kesehatan maupun non kesehatan (Depkes, 2002).
    Pelayanan keperawatan yang diberikan meliputi pelayanan primer, sekunder dan tersier yang berfokus pada asuhan keperawatan klien melalui kerjasama dengan keluarga dan tim kesehatan lainnya. Perawatan kesehatan di rumah adalah spektrum kesehatan yang luas dari pelayanan sosial yang ditawarkan pada lingkungan rumah untuk memulihkan ketidakmampuan dan membantu klien yang menderita penyakit kronis (NAHC, 1994).
    Menurut Departemen Kesehatan (2002) menyebutkan bahwa home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit.
    Pelayanan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien atau keluarga yang direncanakan dan dikoordinasi oleh pemberi pelayanan melalui staf yang diatur berdasarkan perjanjian bersama. Sedangkan menurut Neis dan Mc Ewen (2001) menyatakan home health care adalah sistem dimana pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial diberikan di rumah kepada orang-orang yang cacat atau orang-orang yang harus tinggal di rumah karena kondisi kesehatannya.

    BalasHapus
  5. Lanjutan :Home Care / Perawatan Kesehatan di Rumah


    3. Manfaat pelayanan home care
    Berbagai keuntungan dari pelayanan home care bagi klien menurut Setyawati (2004) antara lain:
    1) Pelayanan akan lebih sempurna, holistik dan komprehensif
    2) Pelayanan keperawatan mandiri bisa diaplikasikan dengan di bawah naungan legal dan etik keperawatan
    3) Kebutuhan klien akan dapat terpenuhi sehingga klien akan lebih nyaman dan puas dengan asuhan keperawatan yang profesional
    4. Ruang lingkup pelayanan home care
    Menurut Nuryandari (2004) menyebutkan ruang lingkup pelayanan home care adalah: pelayanan medik; pelayanan dan asuhan keperawatan; pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan terapeutik; pelayanan rehabilitasi medik dan keterapian fisik; pelayanan informasi dan rujukan; pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan kesehatan; higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan; pelayanan perbantuan untuk kegiatan sosial.
    5. Bentuk pelayanan home care
    Berbagai bentuk pelayanan home care yang dapat dilakukan di rumah. Tindakan tersebut antara lain: pengukuran tanda-tanda vital; pemasangan atau penggantian selang lambung (NGT); pemasangan atau penggantian kateter; pemasangan atau penggantian tube pernafasan; perawatan luka dekubitus atau ulcer dan jenis luka lainnya; penghisapan lendir dengan atau tanpa mesin; pemasangan peralatan oksigen; penyuntikan (IM, IV, Sub kutan); pemasangan atau penggantian infus; pengambilan preparat laboratorium (urin, darah, tinja, dll); pemberian huknah; perawatan kebersihan diri (mandi, keramas, dll); latihan atau exercise, fisioterapi, terapi wicara, dan pelayanan terapi lainnya; transportasi klien; pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan perawatan kesehatan; konseling pada kasus-kasus khusus; konsultasi melalui telepon; memfasilitasi untuk konsultasi ke dokter; menyiapkan menu makanan; menyiapkan dan membersihkan tempat tidur; memfasilitasi terhadap kegiatan sosial atau mendampingi; memfasilitasi perbaikan sarana atau kondisi kamar atau rumah.

    BalasHapus
  6. Lanjutan :Home Care / Perawatan Kesehatan di Rumah


    6.Pemberi pelayanan home care
    Pelayanan kesehatan ini diberikan oleh para professional yang tergabung dalam tim home care. Menurut Setyawati (2004) tim home care tersebut antara lain:
    1) Kelompok profesional kesehatan, termasuk di dalamya adalah ners atau perawat profesional, dokter, fisioterapis, ahli terapi kerja, ahli terapi wicara, ahli gizi, ahli radiologi, laboratorium, dan psikolog.
    2) Kelompok profesional non kesehatan, yaitu pegawai sosial dan rohaniawan atau ahli agama.
    3) Kelompok non profesional, yaitu nurse assistant yang bertugas sebagai pembantu yang menunggu untuk melayani kebutuhan atau aktivitas sehari-hari dari klien. Kelompok ini bekerja di bawah pengawasan dan petunjuk dari perawat.
    Sedangkan menurut Allender (1997) pemberi pelayanan dalam home health care meliputi: 1) pelayanan keperawatan dapat diberikan oleh registered nurse, perawat vokasional, pembantu dalam home health yang disupervisi oleh perawat; 2) suplemental therapiest meliputi terapi fisik, terapi wicara, terapi okupasional, dan terapi rekreasi; 3) pelayanan pekerja sosial.

    BalasHapus
  7. Lanjutan :Home Care / Perawatan Kesehatan di Rumah

    7. Perkembangan Perawatan Kesehatan di Rumah
    Sejauh ini bentuk-bentuk pelayanan kesehatan yang dikenal masyarakat dalam sistem pelayanan kesehatan adalah pelayanan rawat inap dan rawat jalan. Pada sisi lain banyak anggota masyarakat yang menderita sakit karena berbagai pertimbangan terpaksa dirawat di rumah dan tidak dirawat inap di institusi pelayanan kesehatan. Faktor-faktor yang mendorong perkembangan perawatan kesehatan di rumah adalah :
     Kasus-kasus penyakit terminal dianggap tidak efektif dan tidak efisien lagi apabila dirawat di institusi pelayanan kesehatan. Misalnya pasien kanker stadium akhir yang secara medis belum ada upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai kesembuhan,
     Keterbatasan masyarakat untuk membiayai pelayanan kesehatan pada kasus-kasus penyakit degeneratif yang memerlukan perawatan yang relatif lama. Dengan demikian berdampak pada makin meningkatnya kasus-kasus yang memerlukan tindak lanjut keperawatan di rumah. Misalnya pasien pasca stroke yang mengalami komplikasi kelumpuhan dan memerlukan pelayanan rehabilitasi yang membutuhkan waktu relatif lama,
     Manajemen rumah sakit yang berorientasi pada profit, merasakan bahwa perawatan klien yang sangat lama (lebih 1 minggu) tidak menguntungkan bahkan menjadi beban bagi manajemen,
     Banyak orang merasakan bahwa dirawat inap di institusi pelayanan kesehatan membatasi kehidupan manusia, karena seseorang tidak dapat menikmati kehidupan secara optimal karena terikat dengan aturan-aturan yang ditetapkan,
     Lingkungan di rumah ternyata dirasakan lebih nyaman bagi sebagian klien dibandingkan dengan perawatan di rumah sakit, sehingga dapat mempercepat kesembuhan (Depkes, 2002).
    Perawatan kesehatan di rumah bertujuan :
    1. Membantu klien memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidupnya,
    2. Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan masalah kesehatan dan kecacatan,
    3. Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga,
    4. Membantu klien tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan perawatan yang diperlukan, rehabilitasi atau perawatan paliatif,
    5. Biaya kesehatan akan lebih terkendali.
    Secara umum lingkup perawatan kesehatan di rumah dapat di kelompokkan sebagai berikut :
    1. Pelayanan medik dan asuhan keperawatan
    2. Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan yang terapeutik
    3. Pelayanan rehabilitasi dan terapi fisik
    4. Pelayanan informasi dan rujukan
    5. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan
    6. Higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan
    7. Pelayanan perbaikan untuk kegiatan sosial
    Menurut Rice R (2001) jenis kasus yang dapat dilayani pada perawatan kesehatan di rumah meliputi kasus-kasus yang umum pasca perawatan di rumah sakit dan kasus-kasus khusus yang di jumpai di komunitas.
    Kasus umum yang merupakan pasca perawatan di rumah sakit adalah:
    • Klien dengan penyakit obstruktif paru kronis,
    • Klien dengan penyakit gagal jantung,
    • Klien dengan gangguan oksigenasi,
    • Klien dengan perlukaan kronis,
    • Klien dengan diabetes,
    • Klien dengan gangguan fungsi perkemihan,
    • Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan atau rehabilitasi,
    • Klien dengan terapi cairan infus di rumah,
    • Klien dengan gangguan fungsi persyarafan,
    • Klien dengan HIV/AIDS.
    Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi :
    • Klien dengan post partum,
    • Klien dengan gangguan kesehatan mental,
    • Klien dengan kondisi usia lanjut,
    • Klien dengan kondisi terminal.










    kelompok 1 :
    1. A.fauzi ismail
    2. Amrina Rosyada
    3. Yusuf Elyas M
    4. Yenita Malaisya N

    BalasHapus
  8. Nama kelompok 5 KMB I SI Keperawatan
    1. Agus Sugianto
    2. Ahmad Riyadhi
    3. Khusnul Imaroh
    4. Roswita Intan M.

    Pemakaian tap water (air keran) dan betadine yang diencerkan pada luka.
    Beberapa klinisi menganjurkan pemakaian tap water untuk mencuci awal tepi luka sebelum diberikan NaCl 0,9 %. Hal ini dilakukan agar kotoran-kotoran yang menempel pada luka dapat terbawa oleh aliran air. Kemudian dibilas dengan larutan povidoneiodine yang telah diencerkan dan dilanjutkan irigasi dengan NaCl 0,9%. Akan tetapi pemakaian prosedur ini masih menimbulkan beberapa kontroversi karena kualitas tap water yang berbeda di beberapa tempat dan keefektifan dalam pengenceran betadine. Belum ada dokumentasi keperawatan yang baku sehingga setiap institusi rumah sakit mengunakan versi atau modelnya sendiri-sendiri,
    Komentar dari kelompok kami adalah adanya issue tentang pemakain tap water pada perawatn luka di rumah sakit hendaknya lebih di koreksi lagi baik dari segi kesterilan dan higienisan kualitas tap water pada setiap rumah sakit. Metode sebenarnya mempermudah kerja perawat dalam melaksanakan asuhan pada pasien rawat luka, namun dari beberapa segi kualitas yang berbeda pada tiap rumah sakit menjadikan asuhan keperawatn yang dilaksanakan menjadi membingungkan. Untuk itu perlu adanya pengawasan dari tenaga kesehatan yang intensif dalam pelaksanaan asuhan agar tidak ada pihak yang dirugikan dalam pelaksanaan asuhan .
    Disusun oleh kelompok 5 / 3A
    Agus sugianto
    Khusnul imaroh
    S1 KEPERAWATAN
    STIKES DIAN HUSADA MOJOKERTO

    BalasHapus
  9. MAKALAH KMB I
    “DOKUMENTASI KEPERAWATAN YANG BAKU SEHINGGA SETIAP INSTITUSI RUMAH SAKIT MENGGUNAKAN VERSI ATAU MODELNYA SENDIRI - SENDIRI”



    Disusun oleh:
    1. Fany pradana
    2. Leni wijayanti
    3. Samsul arifin
    4. Yuliati


    Dokumentasi Keperawatan merupakan suatu kumpulan dokumen yang mencatat semua pelayanan keperawatan klien yang mempunyai banyak manfaat dan penggunaan. Kegiatan pendokumentasiaan ini meliputi keterampilan berkomunikasi, keterampilan mendokumentasikan proses keperawatan, dan keterampilan standar. Perawat perlu memberikan prioritas terhadap ketempilan tersebut.
    Praktik keperawatan medikal bedah tumbuh terutama sebagai keperawatan bagi orang yang telah mencapai kedewasaan jasmani atau telah berkembang, bagi yang beresiko atau mengalami variasi norma yang ditentukan mengenai fungsi fisik dan yang membutuhkan intervensi pengobatan medikal atau bedah.
    Dokumentasi asuhan keperawatan medikal bedah terdiri dari:
    1. Pengkajian
    2. Diagnosa
    3. Perencanaan
    4. Implementasi
    5. Evaluasi
    a. Trend Keperawatan Medikal Bedal Bedah dan Dampaknya di Indonesia.
    Beberapa trend yang terjadi dalam Keperawatan Medikal Bedah di Indonesia, diantaranya adalah: telenursing, Prinsip Moisture Balance dalam Perawatan Luka, Pencegahan HIV-AIDS pada Remaja dengan Peer Group, Program sertifikasi perawat keahlian khusus, Hospice Home Care, One Day Care, Klinik HIV, Klinik Rawat Luka, Berdirinya organisasi profesi keperawatan kekhususan, Pengembangan Evidence Based Nursing Practice di Lingkungan Rumah Sakit dalam Lingkup Keperawatan Medikal Bedah. Disadari bahwa semua trend tersebut belum seutuhnya diterapkan dalam pelayanan keperawatan di seluruh Indonesia.
    b. Isu dalam Keperawatan Medikal Bedah dan Dampaknya di Indonesia
    Beberapa isue yang berkembang dalam Keperawatan Medikal Bedah di Indonesia, antara lain: Pemakaian tap water (air keran) dan betadine yang diencerkan pada luka, Belum ada dokumentasi keperawatan yang baku sehingga setiap institusi rumah sakit mengunakan versi atau modelnya sendiri-sendiri, Prosedur rawat luka adalah kewenangan dokter, Euthanasia: suatu issue kontemporer dalam keperawatan, Pengaturan sistem tenaga kesehatan, Lulusan D3 Keperawatan lebih banyak terserap di Rumah sakit pemerintah dibandingkan S1, dan Peran dan tanggung jawab yang belum ditetapkan sesuai dengan jenjang pendidikan sehingga implikasi di rs antara DIII, S1 dan Spesialis belum jelas terlihat.

    Komentar:
    Belum adanya dokumentasi keperawatan yang baku menyebabkan setiap rumah sakit menggunakan model dokumentasi keperawatan sendiri-sendiri,itu hanya isu dalam Keperawatan Medikal Bedah. dokumentasi keperawatan sangat penting untuk bukti ,perawat telah melakukan tindakan sesuai dengan prosedur, jadi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,dokumentasi keperawatan dapat digunakan.untuk itu dokumentasi keperawatan seharusnya ada :
    1.Pengkajian
    2. Diagnosa
    3. Perencanaan
    4. Implementasi
    5. Evaluasi
    Untuk setiap rumah sakit

    BalasHapus
  10. TUGAS KMB I KELOMPOK 7 KEAS 3B SI KEPERAWATAN
    NAMA KELOMPOK : 1. Billy Capry
    2. Moh. Roni al faqih
    3. Nurul ayun
    4. Rudi priyanto
    5. Usfuriati K

    1. Lulusan D3 lebih banyak diserah di RS Pemerintah dari pada lulusan S1 Keperawatan
    Lulusan Program Diploma III juga memiliki keunggulan, baik secara kualitatif sebagai tenaga ahli menengah memiliki kemampuan teknis, ketrampilan dan profesionalitas yang kuat, maupun secara kuantitatif menempati posisi strategis dan proporsi yang cukup besar dalam struktur ketenaga kerjaan di Indonesia, sehingga lulusan program ini lebih mudah diserap di pasar kerja. Lebih-lebih dalam menyongsong semakin berkembangnya industri kecil, menengah, maupun industri besar, didorong dengan semakin tingginya tuntutan penggunaan information technology (IT) pada dunia industri, lembaga keuangan, maupun instansi pemerintah, sehingga tenaga ahli maupun praktisi yang memiliki ketajaman berfikir, professionalitas yang tinggi dan kinerja yang handal, menjadi semakin dibutuhkan. Peciptaan lulusan yang professional akan menarik dunia industri maupun lembaga/instansi pemerintah untuk menyerap lulusan Program Diploma-III
    2. fakta-fakta yang terjadi di lapangan
    a. Jumlah perawat yang menganggur di Indonesia ternyata cukup mencengangkan. Hingga tahun 2005 mencapai 100 ribu orang. Ini disebabkan rendahnya pertumbuhan rumah sakit dan lemah berbahasa asing. Padahal setiap tahun, dari 770 sekolah perawat yang ada di Indonesia, lulusannya mencapai 25 ribu perawat. Ironisnya, data WHO 2005 menunjukkan bahwa dunia justru kekurangan 2 juta perawat, baik di AS, Eropa, Australia dan Timur Tengah. (Arifin Badri).
    b. Fakta lain di lapangan, saat ini banyak tenaga perawat yang bekerja di rumah sakit dan puskesmas dengan status magang (tidak menerima honor seperserpun) bahkan ada rumah sakit yang meminta bayaran kepada perawat bila ingin magang. Alasan klasik dari pihak rumah sakit “mereka sendiri yang datang minta magang”. Dilematis memang, tinggal di rumah menganggur sayang, magang di rumah sakit/puskesmas tidak dapat apa-apa.
    3. Komentar kelompok kami
    Seharusnya untuk keunggulan S1 lebih ditingkatkan , baik secara kualitatif sebagai tenaga ahli menengah memiliki kemampuan teknis, ketrampilan dan profesionalitas yang kuat, maupun secara kuantitatif menempati posisi strategis dan proporsi yang cukup besar dalam struktur ketenaga kerjaan di Indonesia, sehingga lulusan program ini lebih mudah diserap di pasar kerja.Karena S1 tingkatannya lebih tinggi dibandingkan D3, apalagi dengan isu – isu

    BalasHapus
  11. TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
    “One Day Care”
    Kelompok 2
    Nama anggota kelompok : Agustino
    Inge Arista
    Moh. Ismail
    Siti Sofia

    Keperawatan sebagai profesi dituntut untuk mengembangkan keilmuannya sebagai
    wujud kepeduliannya dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia baik dalam
    tingkatan preklinik maupun klinik. Untuk dapat mengembangkan keilmuannya
    maka keperawatan dituntut untuk peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi
    di lingkungannya setiap saat.

    Keperawatan medikal bedah sebagai cabang ilmu keperawatan juga tidak terlepas
    dari adanya berbagai perubahan tersebut, seperti teknologi alat kesehatan,
    variasi jenis penyakit dan teknik intervensi keperawatan. Adanya berbagai
    perubahan yang terjadi akan menimbulkan berbagai trend dan isu yang
    menuntut peningkatan pelayanan asuhan keperawatan

    One Day Care merupakan sistem pelayanan kesehatan dimana pasien tidak memerlukan perawatan lebih dari satu hari. Biasanya dilakukan pada kasus minimal seperti kasus DBD yang hanya membutuhkan perawatan 1×24 jam, pelayanan kesehatan dengan one day care juga dapat dilakukan pada kasus seperti setelah menjalani operasi pembedahan dan perawatan, setelah itu pasien boleh pulang.
    One Day Care (ODC) adalah suatu fasilitas pelayanan di rehabilitas medik kepada pasien yang memerlukan layanan rehabilitasi medik dalam waktu satu hari dan disediakan ruang istirahat.

    Adapun paket ODC adalah sebagai berikut :
    1. Hidroterapi
    2. Terapi Okupasi / Terapi wicara
    3. Balance terapi
    4. Psikologi

    Komentar dari kelompok kami adalah perawatan dengan menggunakan sistem One Day Care dirasa cukup efektif untuk penanganan kasus-kasus minimal yang hanya membutuhkan perawatan 1×24 jam seperti kasus DBD yang secara keseluruhannya tidak memerlukan perawatan inap, mengingat pelayanan dan tenaga medis yang tersedia di rumah sakit kadang masih terbatas bahkan kurang sehingga tidak menimbulkan penumpukan pasien pada rumah sakit. Dengan adanya One Day Care diharapkan dapat memudahkan kerja perawat di dalam memberikan asuhan keperawatan dan meringankan biaya pasien karena mereka tidak lagi membayar biaya inap terlalu banyak dan biaya perawatan dapat ditekan seminimal mungkin, mereka hanya membayar biaya perawatan selama 1×24 jam.Selanjutnya Pasien yang dirawat selama 24 jam ini hanya membutuhkan asuhan keperawatan dengan pemantauan tanda klinis, laboratorium, dan pemberian cairan yang ketat pada kasus DBD serta kasus-kasus mimimal lainnya.

    BalasHapus
  12. Nama kelompok 5 KMB I SI Keperawatan 3B
    1. Khoirun nisya’
    2. Listya Ernawati
    3. Moh.Khamim
    4. Novveryadi H

    Pemakaian tap water (air keran) dan betadine yang diencerkan pada luka.
    Beberapa klinisi menganjurkan pemakaian tap water untuk mencuci awal tepi luka sebelum diberikan NaCl 0,9 %. Hal ini dilakukan agar kotoran-kotoran yang menempel pada luka dapat terbawa oleh aliran air. Kemudian dibilas dengan larutan povidoneiodine yang telah diencerkan dan dilanjutkan irigasi dengan NaCl 0,9%. Akan tetapi pemakaian prosedur ini masih menimbulkan beberapa kontroversi karena kualitas tap water yang berbeda di beberapa tempat dan keefektifan dalam pengenceran betadine.
    Komentar dari kelompok kami adalah dengan pemakaian tap water dan betadine yang diencerkan pada luka di Rumah sakit hendaknya harus melihat kesterilan dan kehignisan air tap water tersebut. Sebenarnya metode tersebut mempermudah perawat melakukan asuhan pada pasien rawat luka, namun setiap rumah sakit mempunyai beberapa segi kualitas yang berbeda pada asuhan keperawatan . Untuk itu perlu adanya pengawasan dari tenaga kesehatan yang intensif dalam pelaksanaan asuhan agar tidak ada pihak yang dirugikan dalam pelaksanaan asuhan .

    BalasHapus
  13. TUGAS KMB 1
    KLINIK HIV

    OLEH :
    KELOMPOK 3
    AHMAD LUTFI KHOIRON
    HARI BUDIONO
    INTAN PERMATASARI
    YANTI VINA HIMAMAH


    BAB 1
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang
    Maka dari itu klinik HIV/ klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) disarana kesehatan sangat dibutuhkan bagi pasien HIV/AIDS yang sudah terdiagnosis maupun pada kelompok yang beresiko tinggi agar mau melaksanakan tes, bersikap terbuka, dan bersedia mencari pertolongan dokter. Menurut AUSAID (2002), konseling merupakan salah satu program pengendalian HIV/AIDS. pengobatan, dukungan, dan perawatan dilakukan melalui klinik VCT
    .
    .

    BAB 2
    PEMBAHASAN
    1.1 Pengertian tentang Klinik HIV atau Klinik VCT
    Komitmen nasional dan internasional, kecepatan penyebaran HIV/AIDS, terutama pada kelompok berisiko tinggi, mendapat perhatian utama dari pemerintah. Tanggapan nasional terhadap tingginya tingkat penyebaran penyakit ini adalah cermin dari komitmen internasional, khususnya “Declaration of commitment” pada Deklarasi ASEAN tentang HIV/AIDS (2001). Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia terdiri atas upaya pencegahan, pengobatan, dukungan dan perawatan bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS dilakukan melalui klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing).
    .
    1.2 Tahap-tahap VCT (Voluntary Counseling Testing)
    1. Sebelum Deteksi HIV (Pra-Konseling)
    Pra konseling juga disebut juga pencegahan HIV/AIDS. Dua hal yang penting dalam konseling ini, yaitu aplikasi perilaku klien yang menyebabkan dapat klien berisisko tinggi terinfeksi HIV/AIDS dan apakah klien mengetahui tentang HIV/AIDS dengan benar.
    Terdapat beberapa tujuan dilakukannya konseling pra-tes pada klien yang akan melakukan tes HIV/AIDS. Tujuan tersebut adalah agar:
    a. Klien memahami benar kegunaan tes HIV/AIDS
    b. Klien dapat menilai resiko dan mengerti persoalan dirinya
    c. Klien dapat menurunkan rasa kecemasannya
    d. Klien dapat membuat rencana penyesuaian diri dalam kehidupanya
    e. Klien memilih dan memahami apakah ia akan melakukan tes darah HIV/AIDS atau tidak.
    Lima Prinsip Praktis Konseling pra-tes HIV
    Ada lima prinsip penting yang biasa dilakukan saat konseling pra-tes HIV. Yaitu :
    1. Motif dari klien HIV/AIDS
    Klien yang secara sukarela (voluntary) dan secara paksa (compulsory) mempunyai perasaan yang berbeda dalam menghadapi segala kemungkinan, baik pra-tes atau pasca-tes.
    2. Interpretasi hasil pemeriksaan
    a. Uji saring atau skrining dan tes konfermasi
    b. Asimtomatik atau gejala nyata (Full Blown Symptom)
    c. Tidak dapat disembuhkan (HIV) tetapi masih dapat diobati (infeksi sekunder)
    3. Estimasi hasil
    a. Pengkajian risiko bukan hasil diharapkan
    b. Masa jendela.
    4. Rencana ketika hasil diperoleh
    Apa yang akan dilakukan oleh klien ketika telah mengetahui hasil pemeriksaan, baik positif maupun negatif.
    5. Pembuatan keputusan
    Klien dapat memutuskan untuk mau dan tidak mau diambil darahnya guna dilakukan pemeriksaan HIV.
    2. Deteksi HIV (sesuai keinginan klien dan setelah klien menandatangani lembar persetujuan-informed consent)
    Tes HIV harus bersifat :
    1) Sukarela : orang yang akan melakukan tes HIV haruslah berdasarkan atau kesadarannya sendiri, bukan atas paksaan/ tekanan orang lain. dan harus mengetahui hal-hal apa saja yang mencakup dalam tes itu, apa keuntungan dan kerugian dari tes, serta apa saja implikasi dari hasil tes yang positif ataupu hasil tes yang negatif.
    2) Rahasia : apapun hasil tes ini, baik postif maupun negatif, hanya boleh diberitahulangsung kepada orang yang bersangkutan
    3) Tidak boleh diwakilkan kepada orang lain, baik orang tua/ pasangan, atasan, atau siapa pun.

    BAB 3
    PENUTUP
    Klinik VCT bertujuan untuk mencegah penularan HIV, mengubah perilaku ODHA, pemberian dukungan yang dapat menumbuhkan motivasi mereka, meningkatkan kualitas hidup ODHA. Dan perawat merupakan faktor yang berperan penting dalam klinik VCT karena dapat memfasilitasi dan mengarahkan koping pasien yang konstruktif agar pasien dapat beradaptasi dengan sakitnya.

    BalasHapus
  14. KELOMPOK:
    1. DINA ERVIANA
    2. FARID FATONI
    3. MILA LUTFIAH
    4. ARYA ENJIS
    5. EKO SUTRISNO
    EUTHANASIA

    PENGERTIAN
    Istilah euthanasia berasal dari bahasa Yunani , yaitu gabungan dari dua kata eu berarti baik, indah, bagus, terhormat dan thanatos berarti mati,mayat.
    Kemudian pengertian istilah ini berkembang menjadi mengakhiri hidup tanpa penderitaan. Lengkapnya euthanasia diartikan perbuatan mengakhirikehidupan seseorang untuk menghentikan penderitaan .Akan tetapi,ini sering diartikan pengakhiran kehidupan karena kasihan atau membiarkan orang mati.
    Di Indonesia menurut kode etik kedokteran Indonesia, istilah euthanasia dipergunakan dalam tiga arti, yaitu :
    1 .berpidah ke alam baka dengan tenang dan aman, tanpa penderitaan, untuk yang beriman dengan nama Allah di bibir
    2. ketika hidup berakhir, penderitaan si sakit yang diringankan dengan memberikan obat penengan, dan
    3. mengakhiri penderitaan dan hidup seseorang yang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya.

    DIAGNOSIS MATI BATANG OTAK
    Untuk menegakkan diagnosis mati batang otak diperlukan tiga langkah, yaitu sebagai berikut:
    1. Meyakinkan bahwa terdapat prakondisi tertentu, yaitu:
    a. Pasien dalam keadaan koma dan henti nafas, yaitu tidak responsive walaupun sudah dibantu dengan ventilator.
    b. Penyebabnya adalah kerusakan otak structural yang tidak dapat diperbaiki lagi karena gangguan yang dapat menuju mati batang otak.
    2. Menyingkirkan penyebab koma dengan henti nafas yang irreversible, dan
    3. Memastikan arefleksi batang otak dan henti nafasyang menetap.
    Adapun tanda – tanda menghilangnya fungsi batang otak adalah sebagai berikut:
    1. Terjadi koma.
    2. Tidak ada sikap abnormal (dekortikasi, deserebrasi).
    3. Tidak ada sentakan epileptik.
    4. Tidak ada reflek batang otak.
    5. Tidak ada nafas spontan.
    Apabila tanda – tanda fungsi batang otak yang hilang di atas ada semua, maka
    PANDANGAN TENTANG EUTHANASIA
    Masalah euthanasia menimbulkan pro dan kontra. Alas an yang dikemukakan oleh masing – masing kelompok adalah sebagai berikut:
    1. Yang tidak menyetujui tindakan euthanasia
    Kelompok ini berpendapat bahwa euthanasia adalah suatu pembunuhan yang terselubung.Oleh karena itu, tindakan ini bertentangan dengan kehendak Tuhan.Kelompok ini berpendapat bahwa hidup adalah semata – mata diberikan oleh Tuhan sendiri sehingga tak satu orang atau institusi pun yang berhak mencabutnya bagaimanapun keadaan penderita tersebut.Dikatakan pula manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak memiliki hak untuk mati.
    2. Yang menyetujui euthanasia
    Kelompok ini menyatakan bahwa tindakan euthanasia dilakukan dengan persetujuan dengan tujuan utama menghentikan penderitaan pasien.Salah satu prinsip yang menjadi pedoman kelompok ini adalah pendapat bahwa manusia tidak boleh dipaksa untuk mendeerita.Jadi, tujuan utamanya adalah meringankan penderitaan pasien dengan risiko hidupnya diperbaiki.
    Dalam hal ini tampak adanya batasan karena adanya sesuatu yang mutlak berasal dari Tuhan dan batasan karena adanya hak asasi manusia. Pembicaraan mengenai euthanasia tidak akan memperoleh suatu kesatuan pendapat etis sepanjang masa.
    Di dalam Voluntary Euthanasia act (1969), kelompok yang setuju dengan euthanasia menampilkan dua pandangan:
    1. Perasaan kasihan terhadap mereka yang menderita sakit berat dan secaramedis tidak mempunyai harapan untuk pulih.
    2. Perasaan hormat atau agung terhadap manusia yang ada hubungan dengan suatu pilihan yang bebas sebagai hak asasi.

    BalasHapus
  15. Menurut Fletcher tindakan euthanasia dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti berikut:
    1. Langsung dan sukarela
    Cara ini memberi jalan kematian yang dipilih pasien.Tindakan ini dianggap sebagai bunuh diri.
    2. Sukarela tapi tidak langsung
    Pasien diberi tahu bahwa harapan untuk hidup kecil sekali sehingga pasien ini berusaha agar ada orang lain yang dapat mengakhiri penderitaan dan hidupnya.
    3. Langsung tetapi tidak sukarela
    Cara ini dilakukan tanpa sepengetahuan pesien, misalnya dengan memberikan dosis letal pada anak yang lahir cacat.
    4. Tidak langsung dan tidak sukarela
    Cara ini merupakan tindakan euthanasia pasif yang dianggap paling mendekati moral.
    Sekitar 80% dokter di Amerika menyetujui, bahkan pernah mempraktekkan, euthanasia negative, dan 18% setuju euthanasia bila mereka mendapat kesempatan. Dibeberapa Negara Barat, euthanasia tidak lagi di anggap sebagai pembunuhan. Bahkan, hal ini sudah di atur dalam suatu hokum pidana.
    Tipe 4.Penolakan perawatan medis (sering disebut autoeuthanasia).
    Meskipun pseudo-euthanasia ini masih menjadi bahan perdebatan diantara para ahli hukum, tetapi seyogianya hal tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan undang – undang tentang euthanasia.
    EUTHANASIA MENURUT ETIKDAN HUKUM KEDOKTERAN DI INDONESIA
    Peraturan pemerintah Tahun 1969 tentabg Lafal Sumpah Dokter Indonesia yangsama bunyinya dengan Deklarasi Jenewa 1948 dan Deklarasi Sydney 1968 menyebutkan bahwa “Saya akan membangtikan hidup saya guna kepentingan prikemanusiaan……..”
    “Saya akan menghormati setiap hidup insane mulai dari saat pembuahan”.
    .
    Dengan demikian, dasar etik untuk melakukan euthanasia adalah memperpendek atau mengakhiri penderitaan pasien dan bukan mengakhiri hidup pasien. Hal ini sesuai dengan pendapat Profesor Olga Lelacic yang menyatakan bahwa dlam keadaan pasien yang meminta dokter untuk mengakhiri hidupnya , sebenarnya tidak ingin mati, tetapi ingin mengakhiri atau ingin lepas dari penderitaan karena penyakitnya. Sampai saat ini belum ada aturan hukum di indonesia yang mengatur baik euthanasia. Pasal – pasal KUHP justru menegaskan bahwa euthanasia baik aktif maupun pasif tanpa permintaan di larang. Demikian pula dengan euthanasia aktif dengan permintaan. Berikut ini bunyi pasal – pasal KUHP itu.
    Pasal 338 : barangsiapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain karena pembunuhan biasa, dihukum dengan hukuman penjara selama – lamanya lima belas tahun
    Pasal 340 : barangsiapa dengan sengajaaaaaa dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain, karena bersalah melakukan pembunuhan berencana,dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjra sementara selama- lamanya dua puluh tahun
    Pasal 344 :barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang di sebutkan dengan nyata dan sungguh – sungguh, di hukum penjara selama – lamanya dua belas tahun
    Pasal 345 : barangsiapa dengan sengaja membujuk oranglain untuk bunuh diri, menolongnya dalam perbuatan atau memberi sarana kepadanya untuk itu, di ancam dengan pidana penjara paling lama empat puluh tahun, kalau orang itu jadi bunuh diri.
    Pasal 359 : menyebabkan matinya seseorang karena kesalahan atau kelalaian, di pidana dengan pidana penjara selama – lamanya lima tahun atau pidana kurungan selama – lamanya satu tahun.

    BalasHapus
  16. ”Telenursing”

    Disusun Oleh :
    1. Nira krisiyanti
    2. Dwi Anis
    3. Setiabudi
    4. Erik


    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 LATAR BELAKANG
    Dalam beberapa tahun terakhir ini profesi keperawatan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hail ini dikarenakan adanya pengaruh globalisasi dimana tuntutan masyarakat akan profesi keperawatan untuk berbenah diri. Tuntutan yang paling mendasar dan paling menantang adalah menyangkut layanan keperawatan yang professional, bermutu dan dapat dijangkau oleh masyarakat.
    Perawat semakin dituntut untuk professional dan mengedepankan perkembangan tehnologi kesehatan, dimana pasien/klien yang membutuhkan asuhan keperawatan dapat berasal dari berbagai kalangan. Dengan semakin berkembangnya penggunaan internet diikuti pula perkembangan. dalam dunia kesehatan dan keperawatan. Telemedicine, telehealth dan telenursing menjadi alternative dalam memberikan pelayanan kesehatan dan keperawatan.
    BAB II
    TINJAUAN PUSTAKA
    2.1 Definisi
    Telenursing adalah pemberian servis dan perawatan oleh perawat dengan menggunakan telekomunikasi, meningkatkan akses untuk tindakan keperawatan kepada pasien pada lokasi yang jauh atau perpencil.
    Telenursing adalah upaya penggunaan teknologi informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam bagian pelayanan kesehatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau antara beberapa perawat. Sebagai bagian dari telehealth dan beberapa bagian terkait dengan aplikasi bidang medis dan non medis seperti telediagnosis, telekonsultasi dan telemonitoring.
    Telenursing menunjukkan penggunaan tehnologi komunikasi oleh perawat untuk meningkatkan perawatan pasien. Telenursing menggunakan channel elektromagnetik (wire, radio, optical) untuk mengirim suara, data dan sinyal video komunikasi. Dapat juga didefinisikan sebagai komunikasi jarak jauh menggunakan transmisi elektrik atau optic antara manusia dan atau computer.
    2.2 Keuntungan
    Telenursing dapat mengurangi biaya perawatan, mengurangi hari rawat di RS, peningkatan jumlah cakupan pelayanan keperawatan dalam jumlah yang lebih luas dan merata, dan meningkatkan mutu pelayanan perawatan di rumah (home care)
    Menurut Britton et all (1999), ada beberapa keuntungan telenursing yaitu :
    1. Efektif dan efisien dari sisi biaya kesehatan, pasien dan keluarga dapat mengurangi kunjungan ke pelayanan kesehatan ( dokter praktek,ruang gawat darurat, rumah sakit dan nursing home)
    2. Dengan sumber daya yang minimal dapat meningkatkan cakupan dan jangkauan pelayanan keperawatan tanpa batas geografis
    3. Telenursing dapat menurunkan kebutuhan atau menurunkan waktu tinggal di rumah sakit
    4. Pasien dewasa dengan kondisi penyakit kronis memerlukan pengkajian dan monitoring yang sering sehingga membutuhkan biaya yang banyak. Telenursing dapat meningkatkan pelayanan untuk pasien kronis tanpa memerlukan biaya dan meningkatkan pemanfaatan teknologi
    5. berhasil dalam menurunkan total biaya perawatan kesehatan dan meningkatkan akses untuk perawatan kesehatan tanpa banyak memerlukan sumber
    Selain manfaat di atas telenursing dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan keperawatan ( model distance learning) dan perkembangan riset keperawatan berbasis informatika kesehatan. Telenursing dapat juga digunakan dikampus dengan video conference, pembelajaran on line dan Multimedia Distance Learning.

    BalasHapus
  17. lanjutan TELENURSING
    2.3.1 Faktor-faktor aplikasi telenursing
    1. Faktor legalitas
    Dapat didefinisikan sebagai otononi profesi keperawatan atau institusi keperawatan yang mempunyai tanggung jawab dalam pelaksanaan telenursing.
    2. Faktor financial
    Pelaksanaan telenursing membutuhkan biaya yang cukup besar karena sarana dan prasaranya sangat banyak. Perlu dukungan dari pemerintah dan organisasi profesi dalam penyediaan aspek financial dalam pelaksanaan telenursing
    3. Faktor Skill
    Ada dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu pengetahuan dan skill tentang telenursing. Perawat dan pasien perlu dilakukan pelatihan tentang aplikasi telenursing. Terlaksananya telenursing sangat tergantung dari aspek pengetahuan dan skill antara pasien dan perawat. Pengetahuan tentang telenursing harus didasari oleh pengetahuan tehnologi informasi.
    4. Faktor Motivasi
    Motivasi perawat dan pasien menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan telenursing. Tanpa ada motivasi dari perawat dan pasien, telenursing tidak akan bisa berjalan dengan baik.
    Perawat memiliki komitmen menyeluruh tentang perlunya mempertahankan privasi dan kerahasiaan pasien sesuai kode etik keperawatan. Beberapa hal terkait dengan isu ini, yang secara fundamental mesti dilakukan dalam penerapan tehnologi dalam bidang kesehatan dalam merawat pasien adalah :
    1. Jaminan kerahasiaan dan jaminan pelayanan dari informasi kesehatan yang diberikan harus tetap terjaga
    2. Pasien yang mendapatkan intervensi melalui telehealth harus diinformasikan potensial resiko (seperti keterbatasan jaminan kerahasiaan informasi, melalui internet atau telepon) dan keuntungannya
    3. Diseminasi data pasien seperti identifikasi pasien (suara, gambar) dapat dikontrol dengan membuat informed consent (pernyataan persetujuan) lewat email
    4. Individu yang menyalahgunakan kerahasiaan, keamanan dan peraturan dan penyalah gunaan informasi dapat dikenakan hukuman/legal aspek.
    Pelaksanaan telenursing di Indonesia masih belum berjalan dengan baik disebabkan oleh karena keterbatasan sumberdaya manusia, keterbatasan sarana dan prasarana serta kurangnya dukungan pelaksanaan telenursing dari pemerintah. Untuk mensiasati keterbatasan pelaksanaan telenursing bisa dimulai dengan peralatan yang sederhana seperti pesawat telepon yang sudah banyak dimiliki oleh masyarakat tetapi masih belum banyak dimanfaatkan untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau pelayanan keperawatan. Telenursing menggunakan telepon ini dapat diaplikasikan di unit gawat darurat dan home care. Di indonesia sendiri telenursing baru diterapkan disalah satu universitas negeri terkemuka di Indonesia yakni Universitas Gajah Mada

    BAB III
    KESIMPULAN
    Tujuan utama penelitian keperawatan adalah mengembangkan dasar pengetahuan ilmiah untuk praktik keperawatan yang efektif dan efisien. Seorang peneliti dalam hal ini adalah seorang perawat harus bertanggung jawab kepada masyarakat dalam hal penyediaan kualitas layanan dan merumuskan cara-cara untuk meningkatkan mutu layanan tersebut dan yang lebih penting yaitu perawat harus bertanggung jawab terhadap kliennnya.
    1. Telenursing adalah bagian integral dari telehealth
    2. Telenursing dapat digunakan untuk memberikan pelayanan keperawatan professional
    3. Telenursing dapat meningkatkan kemandirian dan kepuasan pasien serta partisipasi aktif keluarga
    4. Telenursing efektif digunakan dalam seting perawatan pasien yang mengalami penyakit kronis dan penyakit yang menyebabkan ketergantungan
    DAFTAR PUSTAKA
    Anthony F. Jerant, A Randomized Trial of Telenursing to Reduce Hospitalization for Heart Failure: Patient-Centered Outcomes and Nursing Indicators.Jakarta:EGC
    http://www.haworthpress.com
    Elizabet Greenberg.(2004). The Domain of Telenursing .Jakarta:EGC
    Wikipedia.(2007). Telenursing, dalam http://en.wikipedia.org/wiki/telenursing,

    BalasHapus
  18. DOKUMENTASI KEPERAWATAN YANG BAKU SEHINGGA SETIAP INSTITUSI RUMAH SAKIT MENGGUNAKAN VERSI ATAU MODELNYA SENDIRI-SENDIRI

    NAMA KELOMPOK 6/3B:
    1. Mei Fitria. K
    2. M. Nurul Huda
    3. Ubat Imam. T
    4. Yeni Nurfiana

    • Pengertian Dokumentasi Keperawatan
    Potter (2005) mendefenisikan dokumentasi sebagai segala sesuatu yang tercetak atau tertulis yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang berwenang. Dokumentasi keperawatan juga merupakan salah satu bentuk upaya membina dan mempertahankan akontabilitas perawat dan keperawatan (Webster New World Dictionary dalam Marelli (1996). Pelaksanaan dokumentasi proses keperawatan juga sebagai salah satu alat ukur untuk mengetahui, memantau dan menyimpulkan suatu pelayanan asuhan keperawatan yang diselenggarakan di rumah sakit (Fisbach, 1991)

    • Model dokumentasi keperawatan
    Penjabaran di bawah ini akan diuraikan tentang beberapa model pendokumentasian yang dapat dipergunakan di dalam system pelayanan kesehatan di Indonesia :
    a. source – oriented record (catatan berorientasi pada sumber ).
    Model ini menempatkan catatan atas dasar disiplin orang atau sumber yang mengelola pencatatan. Bagian penerimaan klien mempunyai lembar isian tersendiri, dokter menggunakan lembar untuk mencatat instruksi, lembaran riwayat penyakit dan perkembangan penyakit, perawat menggunakan catatan keperawatan begitu pula disiplin lain mempunyai catatan masing-masing.
    B. Problem – Oriented Record (Catatan Berorientasi Pada Masalah)
    Model ini memusatkan data tentang klien didokumentasikan dan disusun menurut masalah klien. System dokumentasi jenis ini mengintegrasikan semua data mengenai masalah yang dikumpulkan oleh dokter, perawat atau tenaga kesehatan yang lain yangterlibat dalam pemberian layanan kepada klien.
    C. Progress – Oriented Record (Catatan Berorientasi Pada Perkembangan/ Kemajuan)
    Tiga jenis catatan perkembangan adalah catatan perawat, “flowsheet” , dan catatan pemulangan atau ringkasan rujukan. Ketiga jenis ini digunakan baik pada system dokumentasi yang berorientasi pada sumber maupun berorientasi pada masalah. Sebagian penjelasan tentang system dokumentasi ini telah diuraikan sebagai komponen dari pendokumentasian yang berorientasi pada masalah.
    D. Charting By Exception (CBE)
    Charting by exception adalah system dokumentasi yang hanya mencatat secara naratif dari hasil atau penemuan yang menyimpan dari keadaan normal atau standar.Keuntungan CBE yaitu mengurangi penggunaan waktu untuk mencatat sehingga banyak waktu yang digunakan untuk asuhan langsung pada klien.

    BalasHapus
  19. lanjutan kel 6 3B
    E.Problem Intervenstion Dan Evaluation (PIE)
    PIE adalah suatu singkatan dari (Identifikasi problem, Intervenstion dan Evaluation).Sistem pencatatan adalah suatu pendekatan orientasi-proses pada dokumentasi dengan penekanan pada proses keperawatan dan diagnose keperawatan.
    F. Focus (Process Oriented system)
    Pencatatan FOCUS adalah suatu proses orientasi dank lien focus.Hal ini digunakan proses keperawatan untuk mengorganisir dokumentasi asuhan.jika menuliskan catatan perkembangan,format DAR (data –Action –Response )dengan 3kolum
     Data :berisi tentang data subyektif dan obyektif yang mendukung dokumentasi focus
     Action :merupakan tindakan keperawatan yang segera atau yang akan dilakukan berdasarkan pengkajian /evaluasi keadaan klien
     Response :menyediakan keadaan respon klien terhadap tindakan medis atau keperawatan
    Komentar Kelompok :
     Pendokumentasian Keperawatan merupakan hal penting yang dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. Model pendekomentasian bervariasi, tergantung ketentuan institusi yang telah disepakati. Model dokumentasi keperawatan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun demikian pada dasarnya maksud dan tujuannya sama. Perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dalam upaya peningkatan mutu, seorang perawat harus mampu melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi berikut dengan dokumentasinya.

    BalasHapus